Cerita sex Aku contoh sebagian dari korban dukun cabul

"Dewi, gua dengar, di daerah dusun luar kota ada orang pinter yang
hebat loe, eloe coba aja ke sana, mungkin dia bisa bantu" begitu kata
Cindy teman kantorku. Aku menatapnya dan berkata "sekarang udah zaman
komputer, masa sih eloe nyuruh gua percaya, sama dukun?" kataKu dengan
arogan.
"loh, apa salahnya di coba, apa loe mau sendiri terus, Ki Bejo itu
dukun hebat, sudah banyak yang berhasil" kata Cindy lagi.
Aku diam, pikiranku menerawang jauh, memang aku tak penah mau jadi
perwan tua, umurku sudah 30 tahun, tapi tak ada seorang cowokku yang
tertarik padaKu. Padahal, aku tidak jelek. wajahku ayu, kulitku putih.
Latar belakang pendidikanKu juga tidak jelek, dengan S1 ekonomi. Aku
juga dari keluarga baik baik, dengan ekonomi cukup mapan.
"eh koq melamun sih" kata Cindy lagi. "ah engak koq, aku lagi mikirin,
kerjaan, besok bos mau meeting" kataku asal jawab. "ah, eloe, kerjaan
mulu, eloe mesti pikirin juga diri eleo dong, lihat gua, umur gua
lebih mudah dari eleo, anak gua udah dua, kapan eloe mau punya anak,
Dewi, Dewi..." kata Cindy yang terus nyerocos kaya senapan mesin.
Aku masih diam, mendengar nasehat teman baikku ini. "udah deh, eloe
coba konsultasi ama Ki Bejo, nih alamatnya" kata Cindy lalu
menyebutkan alamat Ki Bejo. Aku pura pura, acuh, tapi otakku mememori
seluruh ucapannya.
"Dewi, kalau mau, gua akan temanin eloe pergi ke sana" kata Cindy
lagi. "udah deh, Cindy, gua gak percaya ama gitu gituan" , kataKu.
Cindy menghela nafas, "yah, sudah deh, tapi kalau eloe berubah pikiran
eloe bilang aja yah.
Saat itu, lewat Anto, Teman kantorku juga, dia menjabat kepala
mekanik. Dia seusia dengan ku, dia juga lajang dan wajahnya tampan.
Aku sudah berkali kali menarik perhatiannya, tapi dia tampaknya acuh
padaKu.
"Hai, Cindy, gimana kabarnya anak eleo" katanya menyapa Cindy. "he he
baik baik, anak eloe gimana" kata Cindy. "ah eleo, lagi gua design
"jawab Anto bercanda.
Anto berlalu, begitu saja di depanku, seakan akan aku tak ada di situ.
Ada rasa kesal di hatiku. Memang benar kata Cindy, aku harus mencoba,
kesaktian Ki Bejo, tapi aku terlalu gengsi untuk mengakuinya.
Hari jum'at, malamnya sepulang dari kantor aku melarikan mobilku,
memasuki jalan tol dan melaju kencang. Sambil mendengarkan lagu lagu
romantis, mobilku melaju cepat. Sampai bertemu pintu keluar, yand di
sebutkan Cindy.
Mobilku terus berjalan, dan jalan di perkampungan itu agak rusak.
Jalan tak beraspal, penuh debu, dan kerikil. Aku sampai tersesar, dan
bertanya tanya orang. Sampai orang terakhir "pak, numpang tanya, rumah
Ki Bejo di mana yah?".
"oh, Ki Bejo dukun sakti itu yah" katanya. Aku mengangguk, wah mungkin
Ki Bejo ini benar benar sakti pikirKu. "itu, ibu lurus saja, nanti
lihat rumah catnya hijau putih, nah itu rumahnya" kata orang itu.
Setelah mengucapakan terima kasih mobilku terus melaju pelan, sampai
bertemu rumah berciri sama dengan yang di ucapkan orang itu. Aku
memarkirkan mobilKu. Memasuki terus rumah, itu dan mengetuk pintu.
"yah, ada apa bu" kata seorang lelaki muda,berumur tak lebih dari 17
tahun. "anu dik, Ki Bejo ada?" tanyaKu. "oh, ada tunggu yah, silakan
duduk dulu, saya panggilkan bapak" kata anak muda itu, sambil
mempersilakan saya duduk.
Mataku melihat sekeliling ruang tamu itu, rumah itu tergolong mewah
untuk ukuran kampung. Tak lama munculah lelaki tua berumur sekitar 60
tahunan. Tubuhnya masih tampak kuat. Hanya rambutnya sebagian sudah
memutih. Kulitnya hitam legam.
Wajah orang itu agak menyeramkan, lebih cocok menjadi preman di
banding dukun. Jari jari yang besar, di penuhi cin-cin dengan batu
berwarna warni.
"selamat malam, ada yang bisa saya bantu" katanya. Aku masih agak
shock melihat penampilan dirinya. "eh, anu pak.. anu "katku terbata.
Ki Bejo tersenyum.
Anak muda itu kembali keluar dengan membawa, segelas air "silakan bu"
katanya. Aku melihat anak muda. "ini anak saya," kata Ki Bejo. Anak
itu segera masuk kembali. Aku melihat perbedaan yang nyata, anak itu
ganteng, dan kulitnya putih, koq bapaknya seperti ini yah pikirKu.
Setelah berbasi basi, dan tampaknya Ki Bejo jauh lebih ramah, di
banding penampilannya, Aku lalu mengutarakan maksud kedatanganKu. "oh,
masalah itu, itu masalah muda, aya kita ke kamar praktekKu" kata Ki
Bejo.
Aku mengikuti dia, masuk ke sebuah kamar, berukuran cukup luas. Ki
Bejo duduk bersila di hapadannya ada meja, yang di atasnya terletak
baskom berisi bunga bungaan. Ada anglo, dengan arang yang membara, Ada
kasur, dengan alas putih di situ serta beberapa keris dan berbagai
pernak pernik perdukunan, yang terlihat berbau mistik.
Tangan Ki Bejo mengambil menyan, segemgam menyan itu di taruh di atas
arang yang membara, asap mengepul dengan bau menyegat, memenuhi ruang
itu. Kepalaku tersa berkunang, kunang. Dan mulut Ki Bejo berkomat
kamit.
"jodoh kamu ada, cuma tertutup, sinar aura kamu gelap" kata Ki Bejo.
Aku hanya mengangguk. "Kalau kamu mau Aku bisa menolong kamu, dan aku
jamin berhasil" kata Ki Bejo lagi. Aku tersenyum "saya mau Ki, tolong
saya".
"Baik, sekarang, lepaskan baju kamu" kata Ki Bejo.
Aku kaget mendengar kata kata Ki Bejo. Naluriku langsung berkata
tidak, tapi tanganku mulai mengangkat kaos T-shirtKu. Dan aku perlahan
membuka celana jeanku. Kini aku berdiri dengan hanya memakai Bra dan
celana dalam saja. Mata Ki Bejo menatap liar tubuhKu Dia menghapiriku.
Mulutnya berkomat kamit, tangannya bergerak gerak, aneh sepeti menari
di depanKu.
"coba, lepas BH kamu "perintah Ki Bejo. Saat itu tanganku segera
melepas kait BH kream Ku tanpa berpikir. Mata Ki Bejo, seperti melahap
buah dadaku yang mengantung terbuka. Tangannya segera meraba buah
dadaKu. Mulutnya masih terus berkomat kamit, dengan bahasa yang sama
sekali aku tak mengerti.
Yang saat ini Aku rasakan ada desakan kuat di rahimKu. Aku merasa
vaginaKu mulai berreaksi, aku terangsang. Tangan tangan Ki Bejo terus
meraba raba buah dadaKu. Dia meremas, dan memainkan putting susuku.
Putting susuku pun menerima perlakuan ini dan agak menegang.
Dan tiba tiba, jarinya menekan selangkangan celana dalamKu. "aghhhh
"jeritku. Aku semakin terhanyut, dalam birahi yang di berikan Ki Bejo.
Ki Bejo kemudian membaringkan ku di kasur, di ruang itu. Aku benar
bena rke hilangan pikiran jernihku, Entah kenapa aku menurut saja.
"sekarangkan, kamu bayangkan lelaki yang kau inginkan" kata Ki Bejo.
Setelah berbaring, Ki Bejo dengan nafsu sekali melumat bibirku. Dia
menciumku dengan penuh nafsu. Lidahnya juga terus berusaha mesuk ke
mulutku. Berputar di sana, menyentuh langit langit mulutKu.
Mengelitik, dan memberiku rangsangan yang hebat.
Lidahnya juga menjilati leher, kuping dan pipiku. Ada rasa jijik, tapi
Aku tak bisa menolak, Aku hanya memejamkan mata, membayangkan kalau
Anto yang melakuan ini semua pada diriku.
Lidah lidah Ki Bejo terus turun hingga ke buah dadaKu. menjilati
putting susuKu yang semakin mengeras, dan menyedotnya dengan lembut,
membuat aku makin terlena. Vaginaku rasanya terus berdenyut, dan
lendir nafsuku mengalir deras membasahi celana dalam creamku.
Sambil terus menyusu, Ki Bejo juga memainkan selangkangan celana
dalamKu. Aku menjadi begitu hot. "asss, ohh Ki, Ki Bejo, saya tak
tahan Ki" kataKu.
Aku benar benar terangsang, seumur hidupku, aku baru kali ini
merasakan, hal ini. Memang terkadang aku melakuan masturbasi, kalau
birahiku meninggi, tapi rasanya tak seperti ini. Rasa nikmat ini benar
benar membuatku gila.
Dan Ki Bejo terus saja, memainkan buah dadaKU, dan selangkangan celana
dalamKu. Pemainannya ini terus membawaku ke puncak kenikmatanKu. Aku
benar benar tak tahan lagi, Aku menjerit penuh kenikmatan, tubuhku
bergetar hebat. "Ki Bejo, ahh saya tak tahan ...".
Ki Bejo diam sebentar, menatap tubuhku yang mengejet, menikmati
orgasmeku. Kemudian, yang kulihat, Ki Bejo sudah berbugil ria. Tongkat
saktinya bergatung bebas, membuatku bergidik. Penisnya besar, hitam.
"ayo, buka mulut kamu" katanya sambil mendekatkan penisnya ke wajahKu.
Aku seperti di sirep, mulutku terbuka lebar, dan penis itu bermain di
dalam mulutku. Ki Bejo, memegang kepalaKu, membelai rambutku yang
hitam, dan sebahu, yang selalu aku rawat dengan baik.
Penisnya terus begerak dalam mulutku. Entah kenapa, aku sangat
menikmatinya. Tanpa di suruh, aku melakukan gerak seperti di filem
filem porno. Ki Bejo juga sangat menikmatinya. Dia mengeram,
kenikmatan.
Penisnya terus bergerak maju dan mundur, Aku sediri, dengan nasfu
menyedot nyedot kepala penisnya. "ohhh ... "dan sperma Ki Bejo memenuhi
mulutku. "cepat, telan p-e-j-u Ku, jangan di buang, itu obat" kata Ki
Bejo.
Aku menelan spermanya, yang berbau anyir, dan membuatku ingin muntah.
Ki Bejo lalu dengan tenangnya melepas celana dalamku, melebarkan
kakiKu, menatap liar pangkal pahaku. Bukit kemaluanku yang berbulu,
itu jadi santapan matanya. Jarinya kemudian, bergerak memaikan
klitorisku. Aku kembali mendesah. Rasa gatel dan nikmat, kembali
menyerang klitorisKu.
Sementara itu dia juga memainkan batang penisnya yang sudah mulai
membesar kembali
Dan penis itu mulai mendekat ke vaginaKu. Hatiku menjerit, menolak
perlakuan itu. Tapi tubuhku bagai patung, diam saja, tak protes.
Perlahan ujung penisnya mulai membuka liang vaginaku yang perawan itu.
Lendir lendir nikmat yang membasahi liang vaginaku memudahkan
usahanya. Penis itu bergerak masuk, membuatKu merasa pedih. Dan terus
mendesak masuk "sakit, sakit". Jeritku pelan.
Tanpa peduli, Ki Bejo merobek selaput darahKu. Dia terus bergerak,
maju dan mundur Penis besarnya mengisi ruang ruang dalam liang
sagamaKu. Rasa perih dan sakit mendera vaginaKu. Aku mengigit bibirku
menahan sakit di vaginaKu.
Tanpa peduli ke adaanku yang mengerang kesakitan Ki Bejo terus
mengoyang tubuhKu. Sebentar kemudian dia mencabut penisnya tubuhku di
baliknya, pinggulku di angkatnya Dari belakang, penis itu memasuki
tubuhKu. Dan Aku merakan sakit kembali mendera vaginaKu.
Dengan posisi ini aku merasakan penis Ki Bejo semakin besar. Melesak
dalam liang vaginaku, bergerak keluar masuk dengan cepat.
Ki Bejo dengan penuh nafsu terus merodok vaginaKu. Dia mendengus
seperti banteng yang siap menanduk mangsanya. Turus begerak, me
buat tubuhku semakin mengerang
Hampir 15 menit kemudian, setelah peluh membasahi tubuhnya Ki Bejo
mengerang. Aku merasakan cairan spermanya tumpah ruah dalam rahimku.
Aku tersungkur, terberaing tengkurap di kasur itu. Aku lemas sekali.
Di sprei berwarna putih tampak jelas, noda merah, darah perawanku. Air
mataku menitik, bathinku menganggis. Kesucianku yang ku jaga selama
ini telah di renggut dukun cabul ini.
Ki Bejo berjalan ke mejanya. dia mengambil segelas air, dia berkomat
kamit. "nih, minum air ini, habiskan" katanya. Aku meminum air itu,
dan setelah itu, tenagaku seperti pulih kembali. Aku segera berpakaian
kembali. Dan segera pergi dari tempat itu tanpa permisi.
Semakin mobilku menjauh dari rumah Ki Bejo, aku semakin sadar. Dan Aku
kembali menangis di mobilku, Aku telah menjadi korban penipuan dukun
cabul.
Setibanya di rumah, aku membuka seluruh pakaianku, dan di selangkangan
celana dalamku terdapat noda darah, kembali air mataku menitik. Aku
segera membasuh tubuh membersihkan dari kotoran Ki Bejo.
Malam itu aku tidur dengan mata sembab. Aku tertidur karena ke lelahan.
Di kantor esok harinya, aku seperti tak bergairah. Aku tak bisa
bekerja dengan baik. "tok tok tok, pintu ruang kantor di ketuk
seseorang. "yah, masuk aja "jawab Ku.
"maaf Dewi, eh bu Dewi, saya mau lihat laporan pembelian, spare pert
mesin,yang bulan lalu?" kata Anto. Aku menatapnya, tak biasanya dia
minta laporan pembelian. Karena memang bukan tugas dia. Tapi aku
langsung mengangguk, dan mencari file pembelian.
"ini pak Anto" kataKu sambil mememberikan file itu padanya. Dia
menatapku, aku merasakan kehangatan dari bola matanya. "terima kasih
Bu Dewi." dia menerima file itu, lalu berjalan ke pintu. Dia berhenti
sebentar, membalikan badannya lagi "eh maaf Bu Dewi, apa eh.. maksud
saya" katanya agak gugup.
"ada apa pak Anto, koq kayak bingung" kataku. "eh, anu, saya ada
undangan pesta pernikahan teman saya, maksud saya, apa Bu Dewi ada
acara entar malam, apa boleh saya ajak Bu Dewi ke pesta teman saya
itu" katanya.
Jantung saya berdebar, kata katanya seperti lamaran buat saya, saya
tersenyum, "ah Pak Anto, saya entar malam gak ada acara" kataKu dengan
perasaan berbunga bunga.
"jadi, Bu Dewi, bersedia menemani saya ke pesta itu?" tanya Anto lagi.
Aku menganggukan kepala. "terima kasih Bu Dewi, nanti malam saya
jemput yah" katanya yang tampaknya juga gembira sekali.
Saat itu aku termenung, apa semua ini, dari Ki Bejo. Apa dia benar
benar begitu sakti.
Jam 5.00 sore aku sudah tiba di rumah. Begitu di kamar, aku melepas
seluruh pakaianku, bercermin menatap bayang bayang tubuhku di cermin.
Aku mengagumi sendiri bentuk indah tubuhKu.
Hpku berbunyi tepat pukul 5.30. Aku menerima Hp itu, dari Anto. "Bu
Dewi, apa sudah siap, saya sedang menuju ke sana". "oh sudah sudah
siap "jawabku, dan segera masuk ke kamar mandi, begitu pembicaraan
selesai.
Tepat jam 7.00 mobil BMW Anto telah ada di depan rumahKu, aku masuk ke
dalam mobilnya. Aku tersenyum dan dia juga tersenyum. Mobilnya pun
berjalan pelan. Dia banyak berbicara padaKu. "Dewi, apa kamu sudah
punya pacar ? "tanya Anto tiba tiba
Aku mengeleng "belum, saya belum punya pacar" kataKu. Anto tersenyum,
lalu berkata "Dewi, kita sama sama telah berumur, kalau kamu tidak
keberatan, bagaimana kalau kita berpacaran saja" kata Anto.
Hatiku dag dig dug, rasa senang, melanda diriku, saat itu juga aku
resmi menjadi pacarAnto. Rupa undangan pernikahan itu cuma pura pura,
Anto memang ingin mengajakku keluar, untuk menyatakan cintanya.
Kini di kantor hari hariku lebih ceria. Tiga bulan sudah kita melewati
masa pacaran yang penuh kebahagian. Saat malam minggu Anto mengajakku
menginap di Villanya di puncak. Aku tak keberatan, toh Anto sudah
meminangku, dan orang tuaku setuju sekali. Kita tinggal menunggu hari
untuk melangsungkan pesta pernikanan kita.
Di Villa itu, rasa dingin menyelimuti ku. Anto memelukku erat,
memberiku rasa hangat. Bibir kami menempel erat, seakan tak bisa
lepas. Tangan Anto pun mulai menjamah buah dadaKu. Aku mulai merasakan
kenikmatan dari calon suamiku.
Tangan Anto terus menyusup di balik bujuku, dan memainkan putting
susuKu. Saat itu kepalaku rasanya pusing, dan tiba tiba terbayang Ki
Bejo. Saat itu diriku menjadi tak enak. Birahi agak menurun. Aku tak
suci lagi, bagaimana jika Anto tak bisa menerima diriku.
Anto terus saja menstimulasi tubuhKu. Bajuku dilepasnya, dan kini aku
sudah hampir bugil total. Anto terus menjilati buah dadaKu. Rasa
birahi perlahan bangkit kembali Anto pun mulai membuka celana dalamku.
Dia sendiri membuka celananya. Aku menatap penisnya yang jauh lebih
kecil dari milik Ki Bejo. Dia mendekat, dan membuka lebar kakiKu. Dia
mau melakukan penetrasi. "Anto, apa tidak kita tunggu sampai menikah
nanti" kataKu. Sambil mencium keningku Anto berkata "sayang, sejak aku
menyatakan cintaku, aku sudah menganggap kamu istri saya sayang".
Tiba tiba penis itu telah masuk, aku pura pura menjerit "aduh, sakit
sekali Anto". Padahal Aku tidak merasakan apa apa, aku merasa hambar.
Anto terus bergo
yang, dengan nafsu, penisnya bergerak dengan cepat keluar masuk.
Aku pun terus mendesah, walaupun tak merasakan apa apa. Anto terus
mengoyang tubuhku. Udara dingin pegunungan itu, tak mampu membendung
peluh yang membasahi tubuhnya. Anto mengeram, dan dia melepas
spermanya.
"Oh, sayang aku sangat menikmatinya" katanya sambil menciumi bibirku
dengan mesra. Setelah itu Anto terbaring kelelahan, tak lama dia
tertidur.
Aku termenung di toilet, aku heran aku tak merasakan apa apa, ada
nafsu, vaginaku berlendir, tapi aku tak bisa merasakan penis Anto.
Vagina seperti mati rasa. Apa yang terjadi dengan diriku. Saat itu
bayang bayang Ki Bejo membayangi diriku lagi.
Aku hanya berharap, aku terlalu tegang karena sudah tak suci lagi.
Esoknya pagi pagi Anto telah bangun. Dia mencium keningku," selamat
pagi Dewi sayang". Aku pun tersenyum. Dan Anto sama sekali tak
menanyakan soal keperawanan ku. Ini membuatku menjadi tenang.
Setelah itu, Anto kembali mencumbuKu. Kini dengan tanpa beban, Aku
bisa terangsang dan menikmati setiap sentuhannya. Tapi tetap saja aku
tak bisa merasakan penis Anto. Sama sekali mati rasa, seakan akan,
penis Anto tak ada. Dan bayang bayang Ki Bejo selalu menghapiriku. Ini
membuatku sangat menderita. Anto membuat birahi yang memuncak, tapi
tak terselesaikan.
Aku tak bisa membicarakan hal ini dengan Anto. Aku hanya bisa berpura
pura menikmati permainannya.
Hari itu, aku sudah berencana, ingin menanyakan masalah ini pada Ki
Bejo. Sepulang dari kantor kembali aku memacu mobilku ke tempat Ki
Bejo. Menyusuri jalan jalan berdebu, sampai tiba di rumah Ki Bejo.
"ada masalah apalagi, neng, apa ilmuKu tak berhasil ? "tanya Ki Bejo.
Aku mengutarakan kondisiku. Ki Bejo mengajak Aku ke kamarnya lagi.
Kembali kepala pening karena asap menyan yang mengepul. "sini, biar
saya periksa" kata Ki Bejo. Sambil membuka bajuku juga bra Ku. Dia
melihat buah dadaKu "hmm, kilihatannya normal aja". Kemudian dia juga
membuka celanaKu berikut celana dalamnya.
Sambil duduk, tangan Ki Bejo, membuka belahan vaginaKu. "Hmm, normal
aja" katanya berguman. Lalu lidahnya menjulur, dan klitorisku menjadi
sasarannya. nafsuku tiba tiba menjadi tinggi. "oahhh Ki, ada apa
dengan kemaluan saya "desahKu.
Lidah Ki Bejo terus merangsang syaraf syaraf sensitif di vaginaKu.
Lendir kenikmatanku mengalir deras. "oh Ki, enak sekali, terus Ki,
enak sekali "desahku. Aku benar benar merasa gatel di klitorisku.
Setelah bermain tak terpuaskan dengan Anto, sekarang aku benra benar
merasakan nikmat.
Lidah Ki Bejo aktif sekali, dan tubuhku bergetar, menerima
rangsangannya. Rangsangan yang tidak ku dapati dari Anto. Sebentar
saja, tubuhku bergetar hebat. Aku kejang kejang, Aku tenggelam dalam
kenikmatan Ki Bejo.
Setelah membiarkan aku sebentar, kembali tangan Ki Bejo meraba raba
bagian dadaKu. Putting susuku juga tak luput menerima sensasi nikmat
Ki Bejo. Birahi perlahan naik lagi. Dan tanganku juga meraba raba
selangkannya. "Ki, saya mau ini" kataKu.
Ki Bejo mengeluarkan senjatanya, dan membiarkan Aku memainkannya.
Tanganku seperti gemas sekali, mengocok ngocok penis besar Ki Bejo.
Sampai Aku merasakan gatel di Klitorisku, dan Aku memintanya "Ki, ayo
masukin aja, aku udah gak tahan "pintaku.
Dan Ki Bejo membalikan tubuhKu. Aku tahu dia ingin memasukannya dari
belakang aku langsung menungging. Aku mendesah, ketika ujung penisnya
menyentuh klitoriKu Ki Bejo dengan lembut mengesek ujung penisnya di
Klitorisku. Aku mendesah "ohh Ki, udah gak tahan, masukin aja.."
pintaku merengek.
Pelahan Ki Bejo mendorong masuk penisnya. Aku merasakannya, tiap tiap
centi, daging itu menerobos masuk ke kemaluanku. Aku mengerang nikmat,
begitu juga Ki Bejo, merasakan jepitan erat vaginaku. Tubuhnya
bergerak, seiring penisnya keluar masuk vaginaku.
Aku benar benar merasakan nikmat bersetubuh, dengan seorang pria.
Sebentar saja tubuhku kembali bergetar hebat. Aku menerima puncak
kenikmat itu dari Ki Bejo.
Tahu, aku tengah menikmati orgasmeKu, Ki Bejo diam sesaat, lalu mulai
bergerak dengan lembut. perlahan menaikan kembali birahi. dan turus
mengocok dengan cepat.
Membawaku ke puncak nikmatku lagi.
Tiga kali aku di buatnya orgasme, sampai dia pun mengerang, menikmati
orgasmenya di vaginaKu. Tubuhku pun menjadi lemas.
Setelah, aku berpakaian, dan merapikan pakaiaanKu. Aku kembali
menanyakan masalahKu. Ki Bejo membelai rambutku, "Sudahlah, saya akan
coba, membantu kamu".
Dalam perjalan pulang, mobilku berjalan lambat. Aku berpikir, kenapa
aku begitu suka permainan sex Ki Bejo. Aku sepertinya ke tagihan oleh
permainannya.
Aku seperti ingin membatalkan pernikahanKu dengan Anto. Dari pada
menikah, tapi bathinku tersiksa, lebih baik aku sendiri pikirKu.
Hari pernikahanku akhirnya tiba juga. Dimana Aku dan Anto menjadi raja
dan ratu sehari. Anto pun telah menyediakan tempat bernaung untuk ku.
Sebuah rumah yang cantik di perumah yang cukup ternama.
Pesta perkawinanku juga tergolong mewah, dengan di hadir lebih dari
seribu orang, kerabat ku dan Anto, serta orang tua kami.
Malam harinya, Aku bercin
ta dengan Anto secara resmi. Sama seperti sebelumnya, vaginaKu mati
rasa. Aku terangsang, menikmati cumbuan suamiku, tapi ketika nafsuku
sudah tinggi, sewaktu Anto melakukan penetrasi, aku tak merasakan apa
apa.
Tidak ada rasa sakit dan tidak ada rasa nikmat. Sangat berbeda dengan Ki Bejo.
Setelah Anto ejakulasi, dan Aku belum apa apa, Aku berbaring saja.
Hatiku gembira menerima sosok Anto sebagai suamiKu. Anto suami yang
baik. Tapi Badayang suka selingkuh ha.. ha..ha.. "
"mami, mami..". Aku merasa tubuhku di goyang, di bangunkan, aku
membuka mataku, aku melihat suami dengan wajahnya yang kawatir. "mami,
kamu kenapa sayang, ayo bangun," kata suamiku menarik tanganku.
Tapi tubuh seakan lemas tak bertulang, "papi.. mami sakit, pusing..."
suaraku lemah. Suamiku langsung mengendongku, membawaku ke kamar, dan
memaringkan tubuhku di ranjang.. Tubuh tak bisa bergerak, suaraku
sesak, tapi kesadaranku tetap tinggi. Bola mataku bisa melihat jelas,
wajah kawatir suamiku.
Tangannya sibuk menekan tombol Hp nya. Dia menelpon Dokter Benny,
dokter keluarganya. Selagi menunggu ke datangan Dokter Benny suami
saya dengan penuh kasih sayang, membelai rambutku, dia mencium
keningku.
Hatiku menjerit, Anto maafkan diriku. Setelah Dokter Benny tiba, tubuh
langsung di periksa. "bagaiman dok, apa istri saya kena stroke ?
"tanya suamiku dengan cemas.
"tekanan darah normal, detak jantung juga normal, tak ada tanda tanda
stroke" kata Dokter Benny.
"lalu apa, penyakitnya Dok ? "tanya suamiku. Dokter Benny tampak
bingung juga, dia berkata "Untuk sememtara, saya menguda istri anda ke
lelahan". Suami tampak tak puas dengan jawaban Dokter Benny. "begini
saja, saya akan memberi resep, kita lihat besok, jika tidak ada
perubahan, bawa istri kamu ke rumah sakit" kata Dokter Benny.
Besoknya Aku di bawa suamiku ke rumah sakit, Tubuhku masih lemas, tapi
aku sudah bisa mengerakkan anggota tubuhku. Dari hasil pemeriksaan
USG, dan hasil tes Lab, tubuhku normal saja. Ini yang membuat suamiku
bingung.
Aku tahu penyakitku, aku tahu penyebabnya Ki Bejo, dia menginginkan
kehangatan tubuhku, dia tak mau melepaskan tubuhku. Dalam keadaan
setengah sadar di bathtub beberapa hari yang lalu, aku seperti
berbicara dengan Ki Bejo.
Ada semacam telepati, Ki Bejo menginginkan tubuhku, dan Dialah yang
membuat tubuhku suka dengannya. Walaupun jiwaku, hatiku tidak sudi..
Tapi tubuh menginginkan Ki Bejo. Dia tak akan melepaskan tubuhku.
"Mami, tadi Cindy menyarankan membawa kamu ke orang pintar, dia ada
kenal namanya Ki Bejo" kata suamiku. Kepalaku seperti di pukul palu
besar. "papi, masa sih, papi percaya sama, dukun" kataku. "kalau
memang bisa menyembuhkan mami, apa salahnya dukun" kata suamiku lagi.
"tidak mau" kataku.
Selagi suami saya mandi, saya menelpon Cindy. "Cindy eleo gila yah,
kenapa kasih tau Anto masalah Ki Bejo?". "tenang Dewi, gua ngak bilang
eloe dapet jodoh dari Ki Bejo koq ""eleo engak tahu yah, gua di.." aku
menghentikan kata kataku.
Aku tak pernah menceritakan tentang hubungan ku dengan Ki Bejo. Kalau
aku bicara takutnya akan menjadi bumerang unutuk ku. Dewi pun bertanya
"tahu apa ?, kamu kan dapet Anto dari dia, kenapa tak minta tolong
sama dia?". Aku menarik nafas "yah sudah deh" kataku langsung memutus
hubungan telepon itu.
Keesokan harinya, tanpa ku ketahui suamiku, pulang dengan membawa Ki Bejo.
"mami, itu aku bawa Ki Bejo, dia akan mencoba mengobati kamu" kata
suamiku. "ha, Ki Bejo, aku gak mau, aku gak percaya dukun" kataku
protes. "sudalah mi, di cobakan ngak ada salahnya" kata suami
merayuku. Benar benar Ki Bejoo tak mau melepaskan diriku.
Aku mengalah, dan suamiku membawa Ki Bejo masuk ke kamarku. Ki Bejo
tersenyum melihatku, aku memandang rendah dirinya. "saya akan periksa
istri bapak" kata Ki Bejo kepada suamiku. "silakan pak" kata suamiku.
Ki Bejo memegang tanganku. sambil mulutnya berkomat kamit. "wah, istri
anda di ikuti barang halus" kata Ki Bejo. "wah, bisa di tolong Ki?"
tanya suamiku. "oh ini hal mudah.." kata Ki Bejo.
"saya minta berdua dengan istri anda, selama pengobatan tidak boleh
ada yang ganggu jika konsentrasi saya terganggu jiwa istri anda akan
terancam, mengerti" kata Ki Bejo.
"saya mengerti Ki" kata suami saya tanpa curiga.
"mami, saya tinggal dulu yah, biar lah kita kasih sesempatan sama ki
Bejo" kata suamiku. Aku diam saja, mau bilang tidak rasanya tidak
mungkin.
Setelah suami meninggalkan kama, Ki Bejo langgsung mengunci pintu
kamarku. Aku benar benar tak bisa apa apa, kini aku harus ditiduri Ki
Bejo di ranjang ku dan suamiku sendiri.
Ki Bejo mendekat, Aku melotot "jangan macam macam, aku akan teriak "ancamku.
"kau lupa yah, dari siapa kau mendapat suamimu" kata Ki Bejo sambil
membuka celananya. Penisnya yang besar mengacung tepat di wajahku.
Setelah melihat penisnya tubuh seketika mendapat tenaga extra. Aku
seperti tak bisa mengatur tubuhku.
Aku meraih batang penisnya tegak itu, memainkan dengan nafsu. Lalu aku
membuka mulutku lebar lebar, dan aku mengulum penisnya. Penis itu aku
sedoot sedot, sepreti anak kecil yang mengharapkan susu dari ibunya..
Ki Bejo memegang kepalaku, dan terus mengocok batang penisnya di
mulutku. Kira kira lima belas menit, Ki Bejo memuntahkan spermanya
dalam mulutku. Bagai orang ke hausan air maninya aku telan. Rasanya
kerongkongan ku dingin dan suara serak ku hilang.
Ki Bejo pun tanpa segan memreteli pakaianku satu persatu. kini dengan
senyum penuh nafsu Ki Bejo menatap tubuhku, yang hanya memakai celana
dalam pink.